Slider[Style1]

Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak (LKSA) Bina Insan (BISA) merupakan lembaga yang fokus pada pelayanan sosial anak berbasis keluarga islami yang profesional, tepat sasaran dan amanah


Style5

Santri Mengikuti MHQ di Hidayatullah, Ucky : Semoga Lebih Baik Lagi

Semarang, Bina Ihsan Online - Ketua Pesantren Bina Ihsan Ucky Pradestha mengatakan santri Pesantren Tahfidz Bina Ihsan mengikuti perlombaan Musabaqah Tahfidz Qur'an (MHQ) dalam rangka memperingati Maulid Nabi Muhammad Shalallahu 'Alaihi Wassalam pada Ahad (1/12) di  Yayasan Al Burhan Pesantren Hidayatullah Semarang.

"Kami mengikutkan dua belas santri Bina Ihsan yang terdiri dari 1 santri SD dan sebelas santri SMP. Harapannya dengan mengikuti lomba tersebut menumbukan mentalitas mereka untuk berani tampil," ujarnya.

Ucky menambahkan untuk hasil perlombaan santri Bina Ihsan hanya ada 1 santri yang berhasil tembus ke babak final yaitu perlombaan di kategori kelas 7 SMP atas nama Raihan. Tetapi belum bisa memenangkan perlombaan tersebut.

"Terima kasih atas kesempatan yang diberikan kepada kami untuk dapat berpartisipasi dalam perlombaan ini. Bisa menjadi evaluasi bagi kami kedepannya agar hasil yang didapatkan lebih baik lagi", pungkasnya.


Kiat Mudah Menghafal Al-Qur’an


Menghafal Al-Qur’an merupakan salah satu ibadah yang kelak akan menolong seorang muslim saat dihari akhir nanti. Selain itu, menghafal Al-Qur’an juga merupakan salah satu ciri orang yang berilmu. Dalam surat Al-Ankabut ayat 49 Allah berfirman:

بَلْ هُوَ آَيَاتٌ بَيِّنَاتٌ فِي صُدُورِ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ وَمَا يَجْحَدُ بِآَيَاتِنَا إِلَّا الظَّالِمُونَ

“Bahkan, Al Quran itu adalah ayat-ayat yang nyata, yang ada di dalam dada orang-orang yang diberi ilmu.” (QS. al-Ankabut: 49).
Banyak sekali faidah dari menghafal Al-Qur’an, salah satunya orang tua penghafal Al-Qur’an akan mendapatkan cahaya mahkota di Akherat nanti.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

من قرأ القرآن وتعلَّم وعمل به أُلبس والداه يوم القيامة تاجاً من نور ضوؤه مثل ضوء الشمس ، ويكسى والداه حلتين لا تقوم لهما الدنيا فيقولان : بم كسينا هذا ؟ فيقال : بأخذ ولدكما القرآن

Siapa yang menghafal al-Quran, mengkajinya dan mengamalkannya, maka Allah akan memberikan mahkota bagi kedua orang tuanya dari cahaya yang terangnya seperti matahari. Dan kedua orang tuanya akan diberi dua pakaian yang tidak bisa dinilai dengan dunia. Kemudian kedua orang tuanya bertanya, “Mengapa saya sampai diberi pakaian semacam ini?” Lalu disampaikan kepadanya, “Disebabkan anakmu telah mengamalkan al-Quran.” (HR. Hakim 1/756 dan dihasankan al-Abani).
Banyak orang berfikir menghafal Al-Qur’an itu sesuatu yang sulit. Namun nyatanya justru mudah menghafal Al-Qur’an. Berikut 7 langkah mudah menghafal Al-Qur’an antara lain :
1. Menghafal dari Satu Cetakan Mushaf
Ketika ingin lancar menghafal Al-Quran, pastikan kamu menggunakan satu cetakan mushaf yang sama. Hal ini agar kamu tidak bingung ketika mulai menggunakan cetakan berbeda yang nantinya membuat metodemu kacau karena ukuran ayatnya pun akan berbeda.
Selain cetakan yang sama, gunakan Al-Qur’an yang lebih mudah dibaca. Kamu bisa membeli Al-Qur’an dari cetakan-cetakan yang terkenal lalu konsisten menggunakan mushaf tersebut.
2. Tidak Menghafal Banyak Sekaligus
Allah tidak menyukai orang yang melakukan segala sesuatu dengan berlebihan. Begitu pula saat menghafal Al-Quran. Jangan paksakan diri kamu untuk menghafal Al-Qur’an dalam jumlah yang banyak sekaligus karena cara tersebut bukanlah cara yang efektif.
Cara menghafal Al-Quran sedikit demi sedikit secara konsisten jauh lebih baik daripada menghafal banyak sekaligus.
3. Menyetorkan Hafalan di Hadapan Qori yang Lebih Mahir
Ketika kamu mulai merasa berhasil menghafal satu ayat, surat, maupun juz, segera setorkan kepada seseorang yang memiliki bacaan bagus dan faham ilmu tajwid seperti imam-imam masjid ataupun guru tahfiz yang dekat dengan rumahmu. Hanya karena kamu sudah hafal, tidak berarti bacaanmu sudah tepat dan bagus.
Oleh karena itu, kamu akan mengetahui kesalahan yang mungkin terjadi dan bisa segera dikoreksi jika disetorkan di hadapan Qori yang lebih mahir.
4. Baca Berulang-Ulang
Seperti seorang murid yang akan menghadapi ujian sekolah, menghafal Al-Quran dengan cara membaca berulang-ulang juga merupakan metode yang tepat untuk cepat menghafal. Kesungguhan dalam membaca ayat Al-Quran secara berulang-ulang akan mempercepat proses dalam menghafal. Semakin sering kamu mengulangi satu ayat, akan lebih mudah ayat tersebut lengket di ingatanmu.
5. Mengutamakan Durasi
Cara menghafal Al-Quran selanjutnya adalah dengan mengutamakan durasi hafalan. Berkomitmenlah pada durasi kamu biasa menghafal, bukan pada jumlah ayat yang harus dihafal. Jika kamu biasanya menghafal selama dua jam setiap hari, lakukan secara konsisten dengan dua jam tersebut sehingga tidak memberi tekanan kepada otak yang harus menghafal terlalu lama.
6. Mengulangi Hafalan Setiap Waktu Sholat
Selain mengatur durasi hafalan, mengulangi hafalan sebelum atau sesudah waktu sholat dapat kamu lakukan untuk menambah daya hafalan. Kamu dapat sisihkan waktu minimal 15 menit. Selain itu, mengulangi hafalan setiap waktu sholat juga bisa membantu kamu melaksanakan sholat tepat pada waktunya.
7. Menghafal Untuk Setia, Bukan Untuk Khatam
Saat datang niat untuk menghafal Al-Quran, lakukanlah untuk setia dengan wahyu Allah SWT daripada hanya untuk sekedar khatam. Sehingga, setelah berhasil menyelesaikan hafalan 30 juz, kamu tidak meninggalkan Al-Qur’an dan tetap semangat mengulang hafalan.
Seperti itulah cara menghafal Al-Quran dengan cepat dan tepat agar tidak mudah lupa. Semoga dengan menghafal Al-Quran, kamu dapat memperoleh syafaat Al-Quran yang tiada duanya. Selamat mencoba.



Syarat Diterimanya Syahadat



Syahadatain memiliki makna beritikad dan berikrar bahwasanya tidak ada yang berhak disembah kecuali Allah Subhanahu wa Ta'ala dan mengakui secara lahir batin bahwa Nabi Muhammad adalah hamba Allah dan RasulNya yang diutus kepada manusia sevara keseluruhan, sehingga sebagai seorang muuslim memiliki konsekuensi untk mengamalkan, mentaati perintahNya serta menjauhi laranganNya dan tidak mempersekutukan Allah.
Dalam Surat Al-Baqarah ayat 21 dan 22 Allah berfirman

يَـٰٓأَيُّہَا ٱلنَّاسُ ٱعۡبُدُواْ رَبَّكُمُ ٱلَّذِى خَلَقَكُمۡ وَٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَتَّقُونَ (٢١) ٱلَّذِى جَعَلَ لَكُمُ ٱلۡأَرۡضَ فِرَشً۬ا وَٱلسَّمَآءَ بِنَآءً۬ وَأَنزَلَ مِنَ ٱلسَّمَآءِ مَآءً۬ فَأَخۡرَجَ بِهِۦ مِنَ ٱلثَّمَرَٲتِ رِزۡقً۬ا لَّكُمۡ‌ۖ فَلَا تَجۡعَلُواْ لِلَّهِ أَندَادً۬ا وَأَنتُمۡ تَعۡلَمُونَ (٢٢)

Artinya: “Hai manusia, sembahlah Tuhanmu Yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa. (21) Dialah Yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air [hujan] dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezki untukmu; karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah [5] padahal kamu mengetahui”. (22). (Q.S. Al-Baqarah [2]: 21-22).
Kemudian ditegaskan pula dalam Hadist Rasulullah yang berbunyi

بني الإسلام على خمس: شهادة أن لا إله إلا الله وأن محمدا رسول الله، وإقام الصلاة، وإيتاء الزكاة، وصوم رمضان، وحج البيت

“Islam dibangun di atas lima perkara: (1) Syahadat bahwa tiada tuhan yang berhak disembah dengan benar selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah; (2) Menegakkan shalat; (3) Menunaikan zakat; (4) Puasa di bulan Ramadhan; dan (5) Berhaji ke Baitullah.” (HR. Al-Bukhari no.8 dan Muslim no. 16).
Layaknya ibadah lain yang memiliki syarat agar diterima ibadahnya, dalam syahadat pun ada beberapa syarat yang harus dipenuhi oleh setiap muslim agar diterima syahadatnya. Antara lain :
1.      Ilmu Yang Menghilangkan Kejahilan
Makna disini adalah bahwa kita memahami makna dan maksud atas apa yang telah ditetapkan dan dilarang,serta menafikan ketidaktahuan dengan hal tersebut.
Allah Ta’ala berfirman,

فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مُتَقَلَّبَكُمْ وَمَثْوَاكُمْ

“Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan (Yang Haq) melainkan Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mu’min, laki-laki dan perempuan. Dan Allah mengetahui tempat kamu berusaha dan tempat tinggalmu.” (QS. Muhammad, 47 : 19)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ مَاتَ وَهُوَ يَعْلَمُ أَنَّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ دَخَلَ الْجَنَّةَ
“Barangsiapa mati dalam keadaan mengetahui bahwa tidak ada sesembahan yang benar kecuali Allah, maka dia akan masuk surga.” (HR. Muslim)
2.      Keyakinan Yang Menghilangkan Keraguan
Setiap muslim yang mengucapkan kalimat syahadat memiliki keyakinan dengan apa yang terkandung didalamnya secara pasti tanpa ada keraguan sedikitpun. seorang yang beriman kepada Allah dan RasulNya tidak pernah ragu-ragu atas segala perintah yang telah Allah dan RasulNya perintahkan.
Allah Ta’ala berfirman dalam surat Al-Hujurat ayat 15

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ آمَنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوا وَجَاهَدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ أُولَئِكَ هُمُ الصَّادِقُونَ

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah, mereka itulah orang-orang yang benar.” (QS. Al-Hujurat, 49: 15)
3.      Keikhlasan Yang Menghilangkan Kesyirikan
Ikhlas disini maksudnya memurnikan segala amal niat dengan sebenarnya dari segala hal bentuk yang mempersekutukan Allah.
Allah Ta’ala berfirman:

أَلا لِلَّهِ الدِّينُ الْخَالِصُ وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ مَا نَعْبُدُهُمْ إِلا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَى إِنَّ اللَّهَ يَحْكُمُ بَيْنَهُمْ فِي مَا هُمْ فِيهِ يَخْتَلِفُونَ إِنَّ اللَّهَ لا يَهْدِي مَنْ هُوَ كَاذِبٌ كَفَّارٌ

“Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik). Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya”. Sesungguhnya Allah akan memutuskan di antara mereka tentang apa yang mereka berselisih padanya. Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang pendusta dan sangat ingkar.” (QS Az-Zumar:3)
4.      Kejujuran Yang Menghilangkan Kedustaan
Saat mengucapkan syahadat dengan jujur dari hati dan lisan tanpa ada kedustaan sedikitpun yang terkandung didalamnya.
Allah Ta’ala berfirman,

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَقُولُ آمَنَّا بِاللَّهِ وَبِالْيَوْمِ الْآخِرِ وَمَا هُمْ بِمُؤْمِنِينَ يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَالَّذِينَ آمَنُوا وَمَا يَخْدَعُونَ إِلَّا أَنْفُسَهُمْ وَمَا يَشْعُرُونَ

“Di antara manusia ada yang mengatakan: ‘Kami beriman kepada Allah dan Hari kemudian’, padahal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman. Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanya menipu dirinya sendiri sedang mereka tidak sadar.” (QS. Al-Baqarah, 2 : 8-9)
Dalam sebuah Hadist shahih Rasulullah menegaskan tentang hal ini, Beliau bersabda:

ما من أحد يشهد أن لا إله إلا الله وأن محمدا عبده ورسوله صدقا من قلبه إلا حرمه الله على النار

“Tidak seorang pun yang bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah dan Muhammad adalah hamba-Nya dan utusan-Nya secara jujur dari hatinya melainkan Allah akan haramkan dirinya dari neraka.” (HR. Bukhori & Muslim)
5.      Kepatuhan Yang Menghilangkan Penolakan
Syahadat memiliki konsekuensi dalam segala aspek kehidupan seorang muslim. ketika seorang mulim bersyahadat maka ia harus patuh terhadap segala syariat Allah Ta'ala serta tunduk dan berserah diri kepadaNya.
Allah Ta’ala berfirman,

وَمَنْ يُسْلِمْ وَجْهَهُ إِلَى اللَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى وَإِلَى اللَّهِ عَاقِبَةُ الْأُمُورِ

“Dan barangsiapa yang menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia orang yang berbuat kebaikan, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang kokoh. Dan hanya kepada Allah-lah kesudahan segala urusan.” (QS. Luqman, 31: 22)



Menundukan Pandangan



Mata merupakan jendela dunia. Mata sendiri merupakan anugerah yang Allah berikan kepada setiap manusia. Dengan mata kita bisa menikmati indahnya alam semesta ciptaan Allah. Selain itu ia menjadi pintu apakah untuk melihat hal positif ataupun negatif. Apabila digunakan hal baik akan mendapatkan Ridho dari Allah sedangkan bila negative maka adzab Allah sungguh pedih. Dalam Al-Quran Allah memerintahkan hambaNya yang beriman untuk menjaga pandangannya karena itu suci bagi mereka. Hal ini sesuai dengan surat An-Nur ayat 30 yang berbunyi :

قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ذَلِكَ أَزْكَى لَهُمْ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ

”Katakanlah kepada laki-laki yang beriman,’Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya. Yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.’” (QS. An-Nur [24] : 30)
Fadilah menjaga pandangan
Di zaman saat ini rasanya sulit sekali untuk kita menjaga pandangan dari sesuatu yang haram untuk dilihat. Bagaimana tidak saat keluar rumah kita disuguhkan pandangan yang haram belum ditambah lewat ponsel ataupun gadget yang kita punya juga tak bisa terlepas dari hal haram yang kita lihat. Meskipun begitu, seberapapun sulitnya menjaga pandangan kita mesti tetap melakukannya. Selain merupakan perintah dari Allah langsung, menjaga pandangan kita dari sesuatu yang haram akan mendatangkan ganjaran pahala yang besar bagi kita. Hal ini seperti yang disabdakan oleh Rasulullah dalam hadistnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

اضْمَنُوا لِي سِتًّا مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَضْمَنْ لَكُمُ الْجَنَّةَ: اصْدُقُوا إِذَا حَدَّثْتُمْ، وَأَوْفُوا إِذَا وَعَدْتُمْ، وَأَدُّوا إِذَا اؤْتُمِنْتُمْ، وَاحْفَظُوا فُرُوجَكُمْ، وَغُضُّوا أَبْصَارَكُمْ، وَكُفُّوا أَيْدِيَكُمْ

”Jaminlah aku dengan enam perkara, dan aku akan menjamin kalian dengan surga: jujurlah (jangan berdusta) jika kalian berbicara; tepatilah jika kalian berjanji; tunaikanlah jika kalian dipercaya (jangan berkhianat); peliharalah kemaluan kalian; tahanlah pandangan kalian; dan tahanlah kedua tangan kalian.” (HR. Ahmad no. 22757. Dinilai hasan lighairihi oleh Syaikh Syu’aib Al-Arnauth)
Saat kita sanggup menahan pandangan dari sesuatu yang haram tidak tanggung-tanggung jaminan yang akan kita dapatkan.  Hal ini sebanding dengan beratnya kita menjaga pandangan mata kita dari sesuatu yang haram.
Efek negatif tidak menjaga pandangan
Ketika kita tidak bisa menjaga pandangan dari sesuatu yang haram, maka akan lebih dekat kepada zina. Hal ini sesuai dengan sabda Rasulullah yang berbunyi :

 كُتِبَ عَلَى ابْنِ آدَمَ نَصِيبُهُ مِنَ الزِّنَا، مُدْرِكٌ ذَلِكَ لَا مَحَالَةَ، فَالْعَيْنَانِ زِنَاهُمَا النَّظَرُ، وَالْأُذُنَانِ زِنَاهُمَا الِاسْتِمَاعُ، وَاللِّسَانُ زِنَاهُ الْكَلَامُ، وَالْيَدُ زِنَاهَا الْبَطْشُ، وَالرِّجْلُ زِنَاهَا الْخُطَا، وَالْقَلْبُ يَهْوَى وَيَتَمَنَّى، وَيُصَدِّقُ ذَلِكَ الْفَرْجُ وَيُكَذِّبُهُ

”Sesungguhnya Allah telah menetapkan atas diri anak keturunan Adam bagiannya dari zina. Dia mengetahui yang demikian tanpa dipungkiri. Mata bisa berzina, dan zinanya adalah pandangan (yang diharamkan). Zina kedua telinga adalah mendengar (yang diharamkan). Lidah (lisan) bisa berzina, dan zinanya adalah perkataan (yang diharamkan). Tangan bisa berzina, dan zinanya adalah memegang (yang diharamkan). Kaki bisa berzina, dan zinanya adalah ayunan langkah (ke tempat yang haram). Hati itu bisa berkeinginan dan berangan-angan. Sedangkan kemaluan membenarkan yang demikian itu atau mendustakannya.” (HR. Bukhari no. 6243 dan Muslim no. 2657. Lafadz hadits di atas milik Muslim).

Husnudzon



Husnudzon yakni berbaik sangka, secara lengkap bisa dimaknai sebagai sikap mental dan sudut pandang seseorang kepada sesuatu dalam kacamata positif dan melihat segala sesuatu dengan hal yang baik tanpa merasakan pikiran negatifnya. Husnudzon merupakan salah satu sifat terpuji, bahkan Islam menganjurkan berbaik sangka dan melarang setiap muslim untuk berburuk sangka. Dalam Surat Al-Hujurat ayat 12 Allah menjelaskan tentang larangan berburuk sangka

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِّنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَب بَّعْضُكُم بَعْضًا أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَن يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَّحِيمٌ

Artinya :“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.” (lihat Q.S. Al-Hujurat, 49: 12).
Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam juga menegaskan dalam sebuah hadist yang artinya “Jauhkanlah dirimu dari berprasangka buruk, karena berprasangka buruk itu sedusta-dusta pembicaraan (yakni jauhkan dirimu dari menuduh seseorang berdasarkan sangkaan saja).” (HR. Bukhari & Muslim)
Dengan memiliki sifat husnodzon dalam diri kita, setiap langkah yang kita lakukan akan selalu optimis dan berpikir positif bahwa Allah pasti akan memberikan yang terbaik. Selain itu juga mampu menekan sikap pesimis dan merasa putus asa atas hal buruk yang kita jalani, karena sudah terpatri dalam diri kita sifat husnudzon sehingga hal terburuk yang terjadipun kita bisa melihat sisi positif yang ada didalamnya.
Namun, husnudzon tidak hanya berlaku husnudzon kepada Allah saja namun juga kepada husnudzon kepada diri sendiri dan juga sesama manusia. Yang membuat kita tidak boleh suudzon kepada diri sendiri dan juga orang lain.
Rasulullah Bersabda

و حَدَّثَنِي عَنْ مَالِك عَنْ أَبِي الزِّنَادِ عَنْ الْأَعْرَجِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِيَّاكُمْ وَالظَّنَّ فَإِنَّ الظَّنَّ أَكْذَبُ الْحَدِيثِ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا تَحَسَّسُوا وَلَا تَنَافَسُوا وَلَا تَحَاسَدُوا وَلَا تَبَاغَضُوا وَلَا تَدَابَرُوا وَكُونُوا عِبَادَ اللَّهِ إِخْوَانًا

Terjemahan hadits : Telah menceritakan kepadaku dari Malik dari [Abu Az Zinad] dari [Al A'raj] dari [Abu Hurairah] bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Jauhilah oleh kalian prasangka buruk, karena prasangka buruk adalah sedusta-dusta pembicaraan. Janganlah kalian saling memata-matai, saling mencari aib orang lain, saling berlomba-lomba mencari kemewahan dunia, saling dengki, saling memusuhi, dan saling memutuskan. Jadilah hamba-hamba Allah yang bersaudara." (Hadits Malik Nomor 1412)

Menjernihkan Hati



Dari An Nu’man bin Basyir radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَلاَ وَإِنَّ فِى الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ . أَلاَ وَهِىَ الْقَلْبُ

“Ingatlah bahwa di dalam jasad itu ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baik pula seluruh jasad. Jika ia rusak, maka rusak pula seluruh jasad. Ketahuilah bahwa ia adalah hati (jantung)” (HR. Bukhari no. 52 dan Muslim no. 1599).
Dalam hadist tersebut secara gamblang Rasulullah menunjukan kepada kita bahwa hati yang baik maka seluruh yang ada dalam diri kita juga baik. Namun, bila hati buruk maka buruk pula semuanya. Menjaga hati agar tetap jernih memang tidak mudah, bermaksiat saja mampu menodai kesucian hati kita. Apalagi penyakit hati macam iri dan dengki, membuat hati kita menjadi berkarat. Lalu bagaimana sih cara menjernihkan hati kita? Berikut diantaranya :
1.      Berprasangka baik
Awal mula hati kita mulai kotor itu dimulai dari prasangka buruk kita entah kepada sesama manusia entah kepada Allah Yang Maha Kuasa. Kita berpikiran bahwa apa yang terjadi dengan menyalahkan yang lain, dan merasa sial. Agar hati kita tetap jernih, cobalah untuk berbaik sangka terlebih dahulu. Bukankah Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam menjelaskan pada sebuah hadits,

عَنْ أََبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: يَقُوْلُ اللهُ تَعَالَى: أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي، وَأَنَا مَعَهُ إِذَا ذَكَرَنِي، فَإِنْ ذَكَرَنِي فِي نَفْسِهِ ذَكَرْتُهُ فِي نَفْسِي، وَإِنْ ذَكَرَنِي فِي مَلأٍ ذَكَرْتُهُ فِي مَلأٍ خَيْرٌ مِنْهُمْ، وَإِنْ تَقَرَّبَ إِلَيَّ شِبْرًا تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ ذِرَاعًا، وَإِنْ تَقَرَّبَ إِلَيَّ ذِرَاعًا تَقَرَّبْتُ مِنْهُ بَاعًا، وَإِذَا أَتَانِي يَمْشِي أَتَيْتُهُ هَرْوَلَةً. الْبُخَارِيُّ

Dari Abu Hurairah radhiallahu 'anhu berkata, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
Allah Ta'ala berfirman:

أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي، وَأَنَا مَعَهُ إِذَا ذَكَرَنِي، فَإِنْ ذَكَرَنِي فِي نَفْسِهِ ذَكَرْتُهُ فِي نَفْسِي، وَإِنْ ذَكَرَنِي فِي مَلأٍ ذَكَرْتُهُ فِي مَلأٍ خَيْرٌ مِنْهُمْ، وَإِنْ تَقَرَّبَ إِلَيَّ شِبْرًا تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ ذِرَاعًا، وَإِنْ تَقَرَّبَ إِلَيَّ ذِرَاعًا تَقَرَّبْتُ مِنْهُ باَعًا، وَإِذَا أَتَانِي يَمْشِي أَتَيْتُهُ هَرْوَلَةً

"Aku sesuai prasangka hamba-Ku kepada-Ku, dan Aku akan bersamanya jika dia berzikir (mengingat-Ku), jika dia mengingat-Ku dalam jiwanya maka Aku akan mengingatnya dalam diri-Ku, dan jika dia mengingat-Ku pada saat keramaian maka Akupun mengingatnya lebih baik dari mereka, dan jika dia mendekatkan dirinya kepada-Ku sejengkal maka Aku akan mendekatinya sehasta, dan jika dia mendekati-Ku sehasta maka Aku akan mendekatinya sejarak rentang dua tangan, dan jika dia mendekati-Ku dengan berjalan maka Aku akan mendekatinya dengan berlari kecil".
(HR. Al-Bukhari)
2.      Berdzikir
Dengan selalu mengingat Allah hati kita semakin tenteram dan itu akan membuat hati kita lebih terjaga dari hal-hal yang mengotori hati kita. Dalam Surat Ar-Ra'd ayat 28 Allah Ta'ala berfirman

الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ


(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram. (Q.S Ar-Ra'd:28)
3.      Bermuhasabah Diri
Muhasabah diri ialah menghisab diri sendiri dari segala perbuatan yang telah kita lakukan. Hal ini akan membuat kita selalu lebih terarah karena mampu mengevaluasi perbuatan buruk yang kita lakukan. Dan muhasabah diri juga termasuk perbuatan yang terpuji, yang mampu membuat kita menjaga hati kita. Dalam surat Al-Hasyr ayat 18 dan 19 AllahTa’ala berfirman :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ (18) وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ نَسُوا اللَّهَ فَأَنْسَاهُمْ أَنْفُسَهُمْ أُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ (19)

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik.” (QS. Al-Hasyr: 18-19)

Menjadi Pribadi Yang Tawadhu


Sebagai manusia, rasanya sudah menjadi sesuatu yang wajar untuk selalu diperhatikan, dipuji, sampai ingin dianggap paling baik dimata manusia. Ini sudah menjadi naluri dalam diri setiap manusia. Meskipun itu merupakan hal yang manusiawi, namun kita mesti waspada serta hati-hati karena itu akan menyebabkan timbulnya rasa sombong dan riya dalam hati kita. Hal ini akan mengaburkan keikhlasan kita dalam melakukan segala aktifitas, yang akhirnya bukan karena mengharap Ridho Allah namun malah menjadi mengharap pujian kepada manusia. Padahal sifat sombong sangat dibenci oleh Allah. Dalam surat Luqman ayat 18 Allah Ta’ala berfirman,

وَلاَ تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلاَ تَمْشِ فِي اللأَرْضِ مَرَحاً إِنَّ اللهَ لاَ يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَجُوْرٍ {18}

“Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (QS. Luqman:18)
Sebagai seorang muslim, hendaknyalah kita menjauhi sifat sombong ini dan memupuk sifat rendah hari (tawadhu) dalam diri kita masing-masing. Sifat tawadhu atau rendah hati ini sangat dianjurkan untuk dimiliki oleh setiap pribadi muslim. Hal ini sesuai firman Allah dalam Surat As-Syuara ayat 215 yang berbunyi

وَاخْفِضْ جَنَاحَكَ لِمَنِ اتَّبَعَكَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ

dan bersikap rendah hatilah kamu terhadap orang-orang beriman yang mengikutimu. (Q.S As-Syuara: 215)
Dalam hadist riawayat Muslim, Rasulullah juga bersabda:

وَإِنَّ اللَّهَ أَوْحَى إِلَيَّ أَنْ تَوَاضَعُوا حَتَّى لَا يَفْخَرَ أَحَدٌ عَلَى أَحَدٍ وَلَا يَبْغِ أَحَدٌ عَلَى أَحَدٍ

“Sesungguhnya Alloh mewahyukan kepadaku agar kalian tawadhu’, hingga tidak ada seorang pun yang membanggakan dirinya atas orang lain dan tidak ada lagi orang yang menyakiti atas orang lain.” (HR. Muslim: 2865)
Untuk menjadi pribadi yang tawadhu tentu bukanlah sesuatu yang mudah, perlu langkah-langkah yang harus dilakukan untuk menanamkan diri sifat tawadhu didalam diri kita. Oleh karena itu ada beberapa hal yang bisa kita lakukan untuk menanamkan sifat tawadhu dalam diri kita, antara lain :
1.      Mengenal siapa Tuhanmu
Saat kita mengenal Allah Subhanahu Wa Ta’ala sebagai Tuhan yang Maha Kuasa, tidak ada hal yang tanpa IzinNya bisa terjadi. Maka kita akan merasa bahwa kita terlalu lemah tanpa ada Pertolongan dariNya. Dengan begitu secara tidak langsung kita akan merasa Tawadhu bahwa segala hal yang terjadi dan telah kita dapatkan semua karena atas izin dan kehendak dariNya, lalu apa yang mesti kita sombongkan?. Dalam Surat Al-Baqarah ayat 117 Allah Berfirman

بَدِيعُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۖ وَإِذَا قَضَىٰ أَمْرًا فَإِنَّمَا يَقُولُ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ

Allah Pencipta langit dan bumi, dan bila Dia berkehendak (untuk menciptakan) sesuatu, maka (cukuplah) Dia hanya mengatakan kepadanya: "Jadilah!" Lalu jadilah ia. (QS. Al-Baqarah :117)

2.      Mengetahui tujuan diciptakannya manusia di muka bumi
Ketika kita fokus akan tujuan kita maka kita hanya berpikiran bagaimana mencapainya. Begitupun pula saat kita mengetahui tujuan diciptakannya kita sebagai manusia oleh Allah Azza wa Jalla maka kita tidak akan lagi berfikiran untuk sombong, dan malah akan membuat kita menjadi rendah hati dan tawadhu karena segala hal yang kita lakukan adalah beribadah dan mengharapkan Ridho dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman dalam surat Adz-Dzariat ayat 56 :

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالإنْسَ إِلا لِيَعْبُدُونِ

“Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia, melainkan supaya mereka menyembah-Ku”. (QS. Adz Dzariyat: 56).
3.      Mengetahui kekurangan atau aib dalam diri kita
Tidak ada manusia yang sempurna di muka bumi termasuk kita. Karena kita memilki kekurangan bahkan aib yang mungkin hanya kita dan Allah lah yang tahu. Lalu buat apa menyombongkan diri saat kita tahu bahwa kitapun punya kekurangan dan aib? Hal ini tentu mendorong kita untuk bersikap tawadhu dan rendah hati.

Top